Menopause

Takut Menghadapi Menopause, Cobalah Minuman Kedelai
Gizi.net – Baru-baru ini telah ditemukan khasiat minuman tradisional berbahan baku kedelai terhadap perlambatan menopause pada wanita. Dari hasil penelitian Hery Winarsi (mahasiswa doktor pangan di IPB) telah terbukti hasilnya, walaupun masih perlu dikembangkan lebih lanjut, setidaknya telah memberikan harapan cerah bagi wanita.

Seperti telah kita pahami bahwa premenopause menjadi momok tersendiri bagi wanita. Kendati hal ini alamiah terjadi pada semua wanita, namun efek sampingnya banyak mempengaruhi keharmonisan rumah tangga bila tidak siap menghadapinya. Premenopause menimpa wanita yang berusia menjelang 40 tahun ke atas. Perubahan-perubahan fisik pun terlihat dari banyak terjadi pengkeriputan di kulit.

Dalam kehidupan berumah tangga, tentu saja menghabiskan hidup berdua dengan pasangan di hari tua memerlukan persiapan mental dan fisik yang memadai. Salah satunya kita perlu mengetahui dan memahami perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi pada istri Anda. Menopause merupakan perubahan yang paling nyata pada wanita yang masuk pada akhir masa reproduksi, masa klimakterium, serta masa senile (masa tua).

Usia menopause terjadi pada usia 48-50 tahun, termasuk dalam masa klimakterium yang merupakan sindrom perubahan endokrin, somatik, dan psikik pada akhir masa subur/reproduktif (40-65 tahun). Menopause adalah pendarahan fisiologik yang terakhir yang masih dikendalikan ovarium, karena ovarium mengalami penurunan fungsi dan ukuran sehingga hormon estrogen dan progesteron yang biasanya dihasilkan secara siklik mulai menurun sehingga mempengaruhi kelancaran haid. Seorang wanita yang menopause tidak mempunyai lagi sel telur yang dapat dibuahi, bahkan siklus anovulasi ini telah berlangsung sejak fase premenopause.

Secara medis istilah premenopause adalah suatu kondisi fisiologis pada wanita yang telah memasuki proses penuaan (aging), yang ditandai dengan menurunnya kadar hormonal estrogen ovarium yang sangat berperan dalam hal reproduksi dan seksualitas. Penurunan kadar estrogen tersebut sering menimbulkan gejala yang sangat mengganggu aktivitas kehidupan para wanita, bahkan mengancam kebahagiaan rumah tangga. Gejala tersebut disebut sindroma menopause, yang meliputi hot flushes (semburan panas dari dada hingga wajah), night sweat (keringatan di malam hari), dryness vaginal (kekeringan vagina), penurunan daya ingat, insomnia (susah tidur), depresi (rasa cemas), fatigue (mudah capek), penurunan libido, drypareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual) dan incontinence urinary (beser).
Sindroma menopause dialami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57% di Malaysia, 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonesia. Dari beberapa data tampak bahwa salah satu faktor dari perbedaan jumlah tersebut adalah karena pola makannya. Wanita Eropa dan Amerika mempunyai estrogen yang lebih banyak daripada Asia. Ketika terjadi menopause, wanita Eropa dan Amerika estrogennya menurun drastis dibanding wanita Asia yang kadar estrogennya moderat.

Muncul Penyakit

Sindroma menopause sendiri dapat memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif antara lain: kanker, tumor, asteoporosis (tulang keropos), astesklerosis dan sebagainya. Selain itu, pada keadaan tadi fungsi sistem imunitas (kekebalan) mengalami penurunan. Khususnya aktivitas yang diperantai oleh sel T. Hal ini karena kelenjar timus atrofi (mengkerut). Padahal kelenjar timus merupakan tempat pendewasaan sel T. Sehingga dengan atrofinya timus, sel T yang dewasa berkurang, demikian pula fungsinya. Hal ini berdampak pada fungsi sel B dalam memproduksi antibodi.

Minuman fungsional hasil kajian peneliti Indonesia ini, kaya akan isoflavon kedelai dan Zn. Isoflavon dapat ditemukan pada kacang-kacangan terutama kedelai yang diyakini memiliki sifat estrogenik, antikarsinogenik, antiosteoporoisitik, antioksidatif dan dapat memperbaiki sindroma menopause. Menurut Doktor Ilmu Pangan ini, kemiripan struktur molekul isoflavom kedelai dengan estrogen endogen, membuat isoflavon mampu berikatan dengan reseptor estrogen. Pada akhirnya isoflavon dapat menggantikan fungsi estrogen. ”Meskipun demikian, potensi isoflavon sangat lemah, bila dibandingkan dengan potensi estrogen endogen.

Secara ilmiah minuman fungsional tersebut telah diuji cobakan pada 33 wanita premenopause yang tinggal di Purwokerto, selama dua bulan. Pada bulan ke-2, responden diimunisasi dengan vaksin Tetanus secara intramuscular. Minuman ini terbukti secara ilmiah memperbaiki fungsi sistem imun.

Selanjutnya sampel darah responden diambil sebanyak tiga kali. Kemudian, sampel darah tersebut diteliti kadar estrogen, timulin, IgM dab IgG anti-Tetanus (TT), aktivitas enzim Superoxide Dismutase (SOD) limfosit, katalase, aktivitas enzim Glutation Peroxidase (GSH-PX) limfosit, MDA (oksidasi lipid), Hormon estradiol, profil darah periferir dan kadar Zn-nya.

Hasil data menunjukkan bahwa minuman fungsional dapat menurunkan bahkan menghilangkan dryness vaginas, dyspareunia, penurunan daya ingat dan fatigue. Selain itu, meningkatkan aktivitas SOD, aktivase katalase, aktivitas GPX sel limfosit yang bisa mencegah kanker. Di samping menurunkan MDA (produk radikal bebas), juga mampu meningkatkan kadar IgG anti TT serum dan kadar hormone timulin.
Melihat hasilnya yang sangat bermanfaat secara medis, penemuan minuman ini tergolong hal baru. Hal ini perlu ditindaklanjuti, terutama untuk dihasilkan produk secara massal yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas. Selain itu yang terpenting lagi adalah secara ekonomis sangatlah murah, karena hanya memanfaatkan bahan alam. Hal ini tentunya bisa mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan produk luar negeri yang begitu mahal harganya.

Melihat begitu kayanya negeri kita akan tumbuhan berkhasiat medis, maka sangatlah sayang bila potensi ini tidak dikembangkan dan ditindaklanjuti dengan baik. Tidak menutup kemungkinan kelak akan ditemukan bahan-bahan obat tradisional yang bisa mengobati penyakit seperti AIDS, Demam Berdarah, Cacar, Rabies dan sebagainya dari tumbuhan tersebut bila kita serius mengkaji dan mengembangkannya. Apalagi di tengah krisis ekonomi yang masih mencekik kehidupan di Indonesia, kembali memanfaatkan bahan alami secara tradisional tentunya meringankan beban. Kalaupun pemerintah tidak perduli, semoga masih ada pihak swasta yang berminat melirik dan mengembangkan temuan ini. Semoga.

Penulis adalah mahasiswa program doktor, TOHOKU University, Jepang.

Sumber: http://sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0430/kes2.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: